Benar.. tak selamanya hari-hari indah dijalani bagi yang sudah berumah tangga. Selalu ada kerikil kecil yang membuat kami tersandung. Bukan masalah besar yang sering menimbulkan perselisihan, melainkan hanya karena perbedaan pola dalam mengasuh anak, bisa membuat kami naik pitam, khususnya saya. Sudah 2 tahun lebih kami menjalani rumah tangga, namun saya baru mengetahui bahwa pola didikan orangtua kami ke kami sangat berbeda.Saya dibesarkan dengan penuh kasih sayang dan perhatian... Semasa kecil, saya selalu dituruti ketika menginginkan sesuatu. Namun, kadang kala juga tak semua hal yang diingini bisa terwujud, saya bahkan masih ingat harus bersabar ketika menginginkan sepatu bermerk "All Star" dan saya harus bersabar sampai SMP untuk bisa memperoleh sepatu yang diinginkan. Lantas? Sehari-hari, saya pakai sepatu apa? Saya pakai sepatu yang diturunkan oleh kakak saya. Sepatu berwarna dasar putih dan ada garis tepinya berwarna merah, dengan ukuran yang kebesaran harus membuat saya ikhlas menggunakannya setiap mau pergi sekolah.Sebenarnya banyak hal lain juga yang sewaktu kecil saya tak memperoleh apa yang diinginkan (saat itu). Seperti saya harus menelan pil iri ketika melihat teman SMP saya banyak yang sudah menggunakan telepon genggam alias HP. Dan saya hanya bisa gigit jari ketika ayah saya mengatakan "kamu belum perlu HP kok". Lagi-lagi saya harus bersabar... Dan terwujud ketika saya SMA, pun itu saya mendapat HP merk Nokia yang seharga 250 ribu rupiah saat itu.Tapi.. dibalik segala keinginan saya yang tak selalu terpenuhi, saya sangat dan amat bersyukur bahwa saya memiliki keluarga yang bahagia, orangtua yang lengkap, harmonis dan demokratis. Kami selalu melewatkan hari bersama-sama, bahkan ditengah kesibukan ayah saya sebagai PNS, beliau masih bisa mengajak anak istrinya pergi berlibur diakhir pekan. Saya masih ingat begitu banyak kenangan dulu bersama-sama ketika kami rekreasi. Beberapa tempat rekreasi sudah dikunjungi; Ancol, TMII, Ragunan, TIM, Monas, Taman Safari, Taman Matahari, Sari ater, Kebun Raya Bogor dan tempat-tempat rekreasi lainnya. Dan semuanya sungguh menyisakan begitu banyak kenangan kebersamaan yang begitu indah, saat diperjalanan maupun sampai di lokasi.Dan itulah yang membuat saya kini, menginginkan hal yang sama terulang kembali. Berpergian dengan anggota keluarga, bercanda tawa dan berakhir pekan dengan riang gembira rasanya ingin saya tunjukkan pada anak saya sekarang. Namun... seringkali konsep berekreasi seperti ini tak sejalan dengan apa yang diinginkan suami. Mengapa? Karena saya baru mempelajari riwayat masa kecilnya... Bahwa berpergian atau berekreasi bukanlah sebuah hal yang utama di keluarganya. Saya lihat, latar belakang orangtua suami saya yang cenderung asik dengan kesibukan masing-masing membuat anak-anaknya terlampau mandiri. Tentu bagus kemandirian itu... namun mandiri disini terkesan individual, bahkan terjadi ketidakhangatan hubungan antara kakak dengan adik maupun sebaliknya. Saya memperhatikan bahwa bapak mertua saya sibuk dengan pekerjaannya sebagai pengajar, sementara ibu mertua saya sibuk dengan usaha butik yang dikelolanya. Sehingga berakhir pekan pun harus dilakukan di rumah, bisa dikatakan bukan dengan berekreasi melainkan beristirahat. Inilah yang membuat suami saya kedekatan hatinya kurang terikat dengan kedua orangtuanya. Saya lihat bahwa kurangnya komunikasi serta interaksi antara anak dengan orangtua yang membuat ketidakpedulian satu sama lain. Sebagai contoh, suami saya kurang perhatian jika ibunya sakit. Suami saya berpikir bahwa ibu saya bisa melalui ujian sakitnya tersebut dengan sendirinya. Misalnya saat itu ibu mertua sakit rematik, seluruh badannya pegal-pegal, dan suami saya hanya merespon dengan perkataan "ibu kecapean tuh, jualan terus sih jadi rematiknya kumat" sambil ngeloyor pergi.Sungguh, saya melihat kejadian tersebut, seperti membuka mata saya lebar-lebar bahwa ternyata saya menikah dengan seseorang yang kurang peka atau kurang 'care' itu karena latar belakang didikan atau lingkungan keluarganya yang memang kurang mengajarkan kepedulian antar anggota keluarga, bahkan terhadap orangtua sendiri. Dan saya juga tidak bisa menyalahkan suami saya seutuhnya, karena saya juga melihat realita bahwa dalam hal kepemilikan saja, ibu mertua saya bisa dikatakan agak 'pelit' padahal dengan anaknya sendiri. Contohnya saja, ketika ibu mertua saya memperoleh omset besar dari usahanya, dan suami saya mengatakan "bu, alhamdulillah ya laris manis, traktirannya dong" namun ibu mertua saya malah menjawab "ahh, ga usah nraktir-nraktir segala lah, makan yang ada aja di rumah, kan banyak makanan". Padahal kalau saya bandingkan dengan keluarga saya, kakak saya yang baru dapat gaji pertama aja langsung menraktir saya dan orangtua makan malam di restoran, padahal hanya mendapat gaji 1 juta. Nah ini omset ibu saya yang ketika itu laris manis dan menembus angka 15 juta, kok nraktir aja enggak ya? Hehe...Inilah mengapa, terkadang karena perbedaan latar belakang keluarga kami lah yang sering membuat saya dan suami berselisih paham. Seperti suami saya yang terbiasa makan apa aja yang ada di rumah, seadanya sekalipun hanya dengan tempe padahal saat itu suami saya pulang kerja membawa uang hasil kerja sambilan sebesar 250 ribuan. Saya rasa, apakah termasuk boros jika hanya menyisihkan 20 ribu rupiah untuk membeli setidaknya ayam bakar 2 potong untuk anak istrinya di rumah?
Hmm... Berumah tangga memang tak selamanya enak terasa. Bahkan ketika saya cukup letih dalam mengurus ini itu di rumah termasuk mengawasi anak dan ketika suami pulang kerja tidak bisa dititipin anak sehingga saya mau (maaf) Buang Air Besar aja, anak saya harus ikut saya ke kamar mandi sementara suami tak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa mengikhlaskan anak saya membuntuti ibunya yang mau buang hajat. Apakah yang seperti itu tidak boleh saya unjuk protes? Kalau ternyata, seorang bapak saja kedekatannya kurang dengan sang anak sehingga anak lebih nyaman ketika berada di dekat ibunya. Inilah yang membuat saya sering naik pitam sebab saya lelah, karena kurang kerjasama dengan suami dalam mengurus serta mendidik anak.Saya sering merenung, mengapa ini bisa terjadi. Namun saya juga sering memaklumi bahwa sikap suami yang acuh tak acuh itu pun tak luput dari pola asuh kedua orangtuanya. Namun, saya rasa ini semua tidak boleh menjadi mata rantai yang terus berlanjut. saya harus segera memutusnya, mengubah paradigma berpikir suami saya bahwa kedekatan antara bapak dengan anak adalah sebuah keniscayaan, bukan kemustahilan. Alhamdulillahnya, karena saya paham asal muasal yang terjadi pada suami saya, maka saya berusaha penuh untuk membuat sistem di keluarga saya jauh lebih baik ketimbang sistem yang diterapkan mertua pada suami sayasemasa kecil.Harapannya... saya bisa menjadi orangtua yang baik bagi anak saya. Saya bisa mencurahkan kasih sayang seutuhnya, tidak membatasi ruang lingkupnya dan membiarkan tumbuh kembangnya mengikuti perkembangan jaman. Saya hanya bisa mengawasi dan bukan menjadi diktator bagi anak saya nanti. Saya berharap juga agar suami saya bisa diajak bekerjasama dalam mewujudkan keinginan baik saya ini. Meski memang sulit bagi suami saya yang terbiasa dengan pola didikan berbeda dan agak aneh, namun saya yakin dengan ijin Allah, yang tidak mungkin akan menjadi mungkin.. Yang tidak yakin bisa, pasti akan bisa. Mohon doanya ya para pembaca sekalian, semoga kita mampu merajut keluarga bahagia, rumah tangga yang penuh keterbukaan dan kehangatan satu sama lain. Aamiin :)
Search
Cerita Keluarga
Katakita-cerita
Apapun kenyataannya, sepahit apapun yang dijalani, semanis apapun yang terjadi... berbagi cerita keluarga, katakita-cerita selalu nyata dalam sebuah keluarga :)
Theme by Function
© 2008 Cerita Keluarga Bloggerized by Katakita-cerita